Jumat, 15 Januari 2010

sekelumit cerita di imigrasi


Dalam sesi wawancara pembuatan paspor
Mas-mas imigrasi : "Tujuannya mau kemana?" (melihat ke formulir)
Akyu : "Jerman Mas."
Mas mas imigrasi : "Ada acara apa di sana? (masih melihat formulir)
Akyu :"Ada program study visit, kayak studi banding gitu."
Mas mas imigrasi :"O, berapa lama?" (masih juga melihat formulir...woh masnya naksir ya ma si formulir)
Akyu : "Kira-kira 13 hari."
Mas mas imigrasi : "Udah pernah ke luar negeri sebelumnya?"
Akyu : (dengan PD dan polos) "Udah mas."
Mas mas Imigrasi : "Kemana?" (tak jua ia mengalihkan pandangan mesranya dari si formulir)
Akyu :"Jerman juga, ikit orang tua sekolah." (masih dengan polosnya tanpa mengira bahwa aku sedang menuju jurang kehancuranku sendiri... huaahahahahahohoho...yang ini lebai sih)
Mas mas imigrasi : "Terus paspornya yang dulu mana?"
Akyu : (dengan kepolosan nyata yang hampir-hampir tampak bodoh) "Hilang mas."
Mas-mas imigrasi : "Lho kok bisa hilang? Itu kan dokumen negara. Jadi haru dikembalikan."
Akyu : (masih dengan polosnya tapi kali ini dengan mengutuki diri sendiri yang terlalu jujur memberikan jawaban) "Jadi gimana mas?"
Mas mas imigrasi : (tersenyum penuh kemenangan ketemu makhluk yang begitu bodohnya...and it's me Sodara-Sodara!!!) "Ya harus dicari donk!"
Akyu : "Lhah kalo gak ketemu gimana mas? Soalnya dulu kakak saya mau bikin paspor dia juga nyari paspor lama nggak ketemu" (Sebenarnya malah buka aib keluarga sendiri ya yang nggal becus nyimpen dokumen penting)
Mas mas imigrasi :" Ya itu harus dikembalikan dong. Kan dokumen negara. Kalo ilang berarti bukan bikin baru statusnya."
Akyu : (berbekal pengalaman ngeyelan ma orang tua selama bertahun-tahun) "Ya gimana mas, kalo nggak ketemu gimana? Kan dah lama banget tuh."
Mas-mas imigrasi : (masih tersenyum penuh kemenangan yang sekarang mirip sekali dengan ceringannya Stephen Cow) "Mang kapan ke Jermannya?"
Akyu : "Udah 12 tahunan yang lalu."
Mas mas imigrasi : "Tahun berapa itu ya?" (jiaaah si mas kagak bisa ngitung pengurangan)
Akyu : "Sekitar tahun '97 mas, dari tahun 94 sih."
Mas mas imgrasi : "Ya udah nanti dicari sambil jalan ya, harus ada tuh. Nih tanda tangan di sini."
Akyu : " Ya mas." (Hanya menambah dosa kebohongan lebih banyak dan hidupku cos noweilah aku minta dicarikan tu paspor entah berantah ma ortu...gak bakalan ketemu!!!)

Few Days Later
Dalam sesi mengambil paspor baru...

(Di loket pengambilan paspor)
Akyu :"Pak mau ambil paspor."
Bapak-bapak imigrasi :" Mana kuitansi pembayarannya?"
Akyu :(Menyeraahkan kertas lecek yang kusimpan dengan serampangan)
Bapak-Bapak Imigrasi :"Duduk dulu ya. Nanti dipanggil namanya."
(Few minutes later )
Bapak-Bapak Imigrasi :" Dian Ika...Dian Ika Purnama..nama siwi. Nah itu tolong dikopi di bawah dulu, nanti kasih ke saya."
Akyu : " Oh ya pak." (bergegas ke foto kopian bawah penuh sukacita..apaan sih)
Akyu : (Kembali ke loket ketemu si Bapak-bapak imigrasi) "Ini pak? Ada lagi?
Bapak-bapak imigrasi : (Sambil sibuk menerima telepon yang salah sambung...yaelah...) Tidak ada. Gitu aja...


Tidak ada tuntuan mengembalikan paspor lama ku yang katanya dokumen negera penting itu, sekedar ditayakan saja tidak.
Kata seorang seniorku, tak ada yang bisa dilobi di dunia ini...
Seorang teman menambahkan, selagi masih di Indonesia semuanya masih bisa diatur...

Sukacita mendapatkan paspor sedikit terganggu oleh sebuah pengalaman kecil tak bermartabat ini.
Dimulai di sebuah kantor kecil sebuah instasi pemerintahan...
Yang katanya menjadi gerbang pertahanan negara dari arus internasional...
Hanya terbesit pemikiran berapa banyak ruang-ruang kantor di setiap sudut negeri memiliki kisah yang sama...
Semua urusan digampangkan...semua aturan bisa ditrabas lewat cara ini itu...

Mereka tak perlu bersusah payah mengirimkan armada perang apalagi membuat nuklir untuk menghancurkan kita...
Mungkin kita kan mudahnya binasa oleh diri kita sendiri...

Tidak ada komentar: